|
Bagi kami, G60 lebih mirip alat GPS dibanding PDAphone. Apalagi bila ini sudah nongkrong di dasbor mobil. Apalagi Garmin-Asus memang menyediakan dudukan yang bisa dilekatkan di kaca atau di dasbor. Bodinya terbilang bongsor untuk ditenteng. Sejauh ini Garmin-Asus hanya menyiapkan warna hitam. Casing berpermukaan dof, jadi tak kuatir dipenuhi jejak jemari. Layar yang luas terasa lega untuk mengamati peta. Layar sentuh kapasitif tentunya bakal bikin layar dipenuhi bekas jemari; namun sepertinya layar punya lapisan khusus sehingga bekas jemari tak begitu kentara. Layar sentuh juga dilengkapi sensor gerak. Perhatikan saja: orientasi layar otomatis menyesuaikan diri dengan bodi yang diputar 90 derajat ke kiri atau ke kanan dari posisi portrait. Pengecualian terjadi ketika kami pegang G60 secara terbalik, karena orientasi layar tidak berubah. Tampilan home screen sangat beda dengan perangkat mobile kebanyakan. Ini karena G60 pakai Linux; sistem operasi yang terbilang langka dipakai di perangkat mobile. Alhasil sulit mencari aplikasi pihak ketiga yang mendukungnya. Karena itu, G60 lebih tepat merupakan GPSphone, bukan PDAphone. Secara kinerja, kami cukup menyukai G60 karena aplikasi berjalan mulus. Kapasitas memorinya pun terbilang besar, sampai 2GB. Malah masih bisa ditambah lagi dengan MicroSD. Hal menarik yang mungkin perlu dicatat adalah SMS tersusun layaknya chatting. Kemampuan navigasi G60 tentu saja disumbang oleh Garmin. Kita akan dapati banyak fasilitas yang biasa ditemukan di perangkat GPS, termasuk pemandu arah menggunakan suara. G60 dijejali tak terhitung Points of Interest. Ada pula Local Search dan Favorites. Yang menarik dicatat adalah banyak aplikasi lain yang bisa di-tag dengan koordinat lokasi. Perhatikan saja sewaktu ber-SMS, ber-email, sharing foto, sampai jejaring sosial. Kita bisa lacak orang yang tersimpan di Contacts sedang berada di mana. Sering kesasar? Coba saja Where am I?. Ini akan memperlihatkan lokasi kita saat itu, lengkap dengan alamat kantor polisi, rumah sakit atau pompa bensin terdekat. Oya, Garmin-Asus memasukkan Ciao; jejaring sosial berbasis lokasi. Dukungan terhadap jaringan 3G menjanjikan koneksi internet super cepat; ini juga dibutuhkan untuk meng-update data lokasi pada aplikasi GPS. Sayang, fasilitas ini tak bisa dipakai untuk video call. Selain 3G, Garmin-Asus menyediakan pula WiFi b/g; lengkap dengan enkripsi WPA. Namun di luar kemampuan hebat di sisi GPS, perangkat ini menyisakan beberapa kekecewaan. Salah satunya, kamera hanya bisa dipakai untuk memotret foto; tak bisa merekam video. Yang lebih mengenaskan lagi, tak terlihat setting apa pun untuk menyetel kamera. Untungnya foto yang dihasilkan cukup tajam. Kita juga bisa melampirkan data lokasi pada foto tersebut. Dengan kemampuan navigasi yang mumpuni, GPS memang pantas diunggulkan Nuvifone G60. Namun karena pakai Linux yang kurang populer, menurut kami G60 akan berat bersaing dengan peranti pintar yang sudah ada di pasaran. Jika Asus jadi memasarkannya di Indonesia di awal tahun 2010, rasanya Asus perlu kerja keras mendekati kalangan pemakai GPS. source : infokomputer |